Ask me anything
… aku akan selalu mencoba menjaga tubuhku tetap murni, tahu bahwa sentuhan kehidupanmu ada pada seluruh anggota badanku.
Aku akan mencoba menahan semua dusta keluar dari pikiranku, tahu bahwa kau adalah kebenaran itu, yang mengobarkan cahaya akal dalam pikiranku.
Aku akan selalu mencoba mengusir semua kejahatan dari hatiku dan menjaga cintaku berbunga, tahu bahwa kau berdiam dalam bagian terdalam di kuil hatiku.
Dan akan menjadi ikhtiarku untuk menyatakan dirimu dalam perbuatanku, tahu bahwa kekuatanmu lah yang memberiku kekuatan untuk bertindak.
Ketika aku melihat diriku, aku melihat seorang lelaki muda di Gaza yang sedang melempar batu ke penjajah negeri dan kehormatanku, mesjid, dan adik-adikku yang manis
Ketika aku melihat lelaki muda itu sedang melempar batu ke penjajah negerinya, aku melihat keberanian yang lemah pada diriku, cita-cita yang tinggi di ucapan-ucapanku dan sedikitnya buku yang sudah kubaca. Aku melihat lelaki muda yang sama dengan negeri yang sama.
Ketika aku melihat diriku pada lelaki muda yan melempar batu pada penjajah itu, aku menjadi ingin untuk bangun besok fajar dalam keberanian lelaki muda itu, melempar batu.
Jika memang perang adalah masa depanku, aku ingin melempar keberanian seperti lelaki muda itu. Untuk itu aku ingin mengingat lelaki muda itu, mengingat teman-temannya, ibu-ayahnya, adik-kakaknya agar aku tak lupa bagaimana caranya melempar batu dengan keberanian sebesar itu.
Hanya kita yang baik yang pantas menjadikan kejahatan sebagai musuh. Karena kita pun bisa menjadi kejahatan itu. Kebaikan tidak begitu saja melekat kepada kita sehingga muncul keyakinan bahwa selain kita adalah kejahatan. Hanya kita yang baik yang membuat kita mempunyai musuh berupa kejahatan.
Keyakinan kosong (baca: prasangka) bahwa kebaikan selalu, dan dengan begitu saja, melekat pada kita, adalah musuh kita yang pertama: bahwa kita pun harus benar-benar yakin bahwa kebaikanlah yang kita bawa. Baru setelah itu, musuh kita yang kedua: mereka yang memusuhi kebaikan.
Hanya kita yang baik yang membuat kita menjadi musuh bagi kejahatan. Kita dan kejahatan (mereka yang kita kutuk) sama-sama bukan “pemilik” kebaikan. Kaerna sejatinyak kita dan mereka punya kesempatan yang sama untuk menjadi “bersama kebaikan”. Konsekuensinya, ada dua hal yang setidaknya kita mesti usahakan:
wallahua’lam
“ Saya pernah dapat pertanyaan ini: bagaimana menjaga satu tetes air di tangan kita agar ia tak menguap? Diri kita adalah kebersamaan sebagai kesendirian, serta adalah keseluruhan sebagai satu bagian. Kesendirian kita hanyalah arti dari kebersamaan, karena kalau kita sendiri maka diri kita adalah semua. Diri kita tak seperti batu di dalam kolam yang tenggelam dan dicuekin secara eksistensial. Diri kita adalah jalan untuk memahami yang lain, yang menjelaskan kesendirian kita, yang menjelaskan semesta semegah apa yang kita ambil bagian di dalamnya. Kita hanya perlu bertanya dengan cara yang hanya kamu yang punya. Jawaban datang seperti kelegaan setetes air dalam penerimaannya: agar ia tak menguap, celupkan, lepaskan ia ke lautan. ”
#sore
“ Kita mencintai sebesar yang kita serahkan; jika memang begitu, maka penyerahan hidup adalah mencintai sampai batas, selama ada, dan sejauh jangkau. Namun, kita juga mampu mencintai yang pantas untuk dicintai dengan cara yang pantas untuk ditempuh untuk cinta seharga itu; jika memang begitu, memilih menjadi tiada untuk itu adalah mengakhiri usaha kita tapi sekaligus menyerahkan segalanya. Kita bisa memilih untuk menjadi ada demi yang kita cintai kemudian memilih menjadi tiada juga untuk yang kita cintai. Bahkan walau ternyata, ketika melakukan keduanya, kita tidak pernah memiliki apapun dan tidak menyerahkan apa-apa. ”
Catatan Ahad #20
Jembatan Penyebrangan Mal Depok
Tiap pulang kerja, saya hampir pasti selalu melewati jembatan ini. Di sebuah pojok, ada seorang wanita paruh baya berjualan sepatu dan sendal karet. Ia berjilbab panjang, memakai baju kurung longgar, mengenakan rok, dan tak lupa berkaos kaki. Sebetulnya ada yang…
Bagaimana jika apa yang kita dambakan selama ini tertutup oleh perhatian kita akan apa yang kita inginkan. Bagaimana jika apa yang kita dambakan sudah kita dapatkan, namun kita sudah terlalu mencintai keinginan kita.
Bagaimana jika kita sudah terlalu terbiasa mengikuti keinginan, dan tidak menyadari apa yang kita dambakan?
Tidak adanya kegelisahan, penyesalan, ketakutan, ke-nyaris putus asa-an. Itukah semua yang kita inginkan? Bagaimana jika itu semua yang dirasakan mereka yang menjadi teladan kita, menjadi dambaan kita.
Bagaimana jika banyak dari yang kita tidak inginkan, adalah apa yang sebenarnya kita dambakan?
***
Kita mendambakan diri kita menjadi mereka yang kita damba-dambakan. Bagaimana jika untuk menjadi seperti mereka, kita hanya perlu menyadari apa yang sebenarnya kita dambakan?
Mereka yang kita dambakan tenang dalam kegelisahannya, belajar dari penyesalannya, berharap dalam ketakutannya. Mereka dan kita sama-sama merasakan apa yang kita tidak inginkan. Bagaimana jika yang membedakan mereka dengan kita hanyalah kecintaan mereka pada apa yang mereka dambakan? Sedangkan kita mencintai apa yang kita inginkan?